BAB FARAIDL

ILMU FARAIDH (PEMBAGIAN HARTA PUSAKA)

bagaimana-jika-lalai-membagikan-harta-warisan

A. Sejarah Singkat Tentang Pewarisan

  1. I. Pewarisan Pada Masa Pra Islam (Zaman Jahiliyah)

Orang-orang Arab Jahiliyah adalah salah satu bangsa yang gemar mengembara dan senang berperang. Kehidupan mereka, sedikit banyak, tergantung kepada hasil rampasan perang dari bangsa-bangsa atau suku-suku yang telah mereka taklukkan. Di samping itu juga mereka berdagang rempah-rempah.

Dalam bidang pembagian harta warisan mereka berpegang teguh kepada adat istiadat yang telah diwariskan oleh nenek moyang mereka. Menurut ketentuan yang telah berlaku, bahwa anak yang belum dewasa dan anak perempuan atau kaum perempuan tidak berhak mendapat warisan dari harta peninggalan orang yang meninggal dunia. Bahkan mereka beranggapan, bahwa janda dari orang yang meninggal itu pun dianggap sebagai warisan dan boleh berpindah tangan dari si ayah kepada anaknya.

Adapun yang menjadi sebab pusaka mempusakai pada masa Jahiliyyah ada tiga macam:

  1. Adanya pertalian kerabat (القرية)

Pertalian kekerabatan belum dianggap memadai untuk mendapat warisan dan yang paling penting adalah kuat jasmani untuk membela dan mempertahankan keluarga dan kabilah (suku) dari serangan pihak lain. Dengan demikian, para ahli waris pada zaman Jahiliyyah dari golongan kerabat terdiri dari:

a) Anak laki-laki

b) Sudara laki-laki

c) Paman

d) Anak paman[1].

  1. Adanya janji Prasetia (المخالفة)

Orang-orang yang mempunyai ikatan janji prasetia dengan si mati berhak mendapatkan seperempat harta peninggalannya. Janji prasetia tersebut baru terjadi dan mempunyai kekuatan hukum, apabila kedua belah pihak telah mengadakan ijab-Qabul dan janji prasetianya. Ucapan (sumpah) yang bisa digunakan, antara lain:

دَمِّىْ دَمُّكَ وَهَدْمِىْ هَدْمُكَ تَرِثُنِىْ وَأَرِثُكَ وَتُطْلَبُ بِى وَأُطْلَبُ بِكَ

“Darahku darahmu, pertumpahan darahku pertumpahan darahmu, kamu mewarisi hartaku aku pun mewarisi hartamu, kamu dituntut darahmu karena tindakanmu terhadapku aku pun dituntut darahku karena tindakanku terhadapmu”.

  1. Adanya pengangkatana anak (تبنّى)

Pengangkatan anak (adopsi) merupakan adat kebiasaan yang berlaku dalam masyarakat Arab Jahiliyah, walaupun anak tersebut jelas mempunyai orang tua sendiri. Anak yang diangkat mempunyai hak-hak yang sama dengan hak-hak anak kandung, misalnya nasab dan warisan.

Orang yang telah diadopsi (diangkat anak) oleh si mati berhak mendapatkan harta peninggalannya seperti anak keturunan si mati. Dalam segala hal, ia dianggap serta diperlakukan sebagai anak kandung dan dinasabkan kepada ayah angkatnya, bukan kepada ayah kandungnya.

Sebagaimana halnya pewarisan atas dasar pertalian kerabat, pewarisan atas dasar ikatan janji prasetia dan pengangkatan anak pun disyaratkan harus orang laki-laki yang sudah dewasa. Sebab, tendensi mereka untuk mengadakan janji prasetia adalah adanya dorongan kemauan bersama untuk saling membela jiwa raga dan kehormatan mereka. Tujuan tersebut niscaya tidak mungkin dapat direalisasikan sekiranya pihak-pihak yang mengadakan janji prasetia itu masih anak-anak atau perempuan. Dan keinginan mereka melakukan pengangkatan anak pun bertujuan melangsungkan silsilah keturunan serta memelihara dan mengembangkan harta kekayaan yang mereka miliki.

 

  1. II. Pewarisan Pada Masa Awal Islam

Pada masa awal islam, kekuatan kaum muslimin masih sangat lemah, lantaran jumlah mereka sedikit. Untuk menghadapi kaum musyrikin Quraisy yang sangat kuat, Rasulullah saw. meminta bantuan penduduk di luar kota Mekkah yang sepaham dan simpatik terhadap perjuangannya dalam memberantas kemusyrikan.

Adapun yang menjadi sebab pusaka mempusakai pada masa awal Islam ada tiga macam:

a) Adanya pertalian kerabat (القربة)

b) Adanya pengangkatan anak (التبني)

c) Adanya Hijrah (dari Mekkah ke Madinah) dan persaudaraan antara kaum Muhajirin dan Anshar (الهجرة والمؤخة)

 

  1. III. Pewarisan Pada Masa Islam Selanjutnya

Setelah aqidah umat Islam bertambah kuat, dan satu sama lain diantara mereka telah terpupuk rasa saling mencintai, apabila kecintaan mereka kepada Rasulullah saw. sudah sangat melekat, perkembangan Islam makin maju, pengikut-pengikut bertambah banyak, pemerintahan Islam sudah stabil, maka sebab-sebab pewarisan yang hanya berdasarkan kelaki-lakian yang dewasa dan mengenyampingkan anak-anak dan kaum perempuan, sebagaimana yang dilakukan oleh orang-orang Jahiliyah telah dibatalkan oleh firman Allah swt.

لِلرِّجَالِ نَصِيْبٌ مِمَّا تَرَكَ الْوَالِدَانِ وَالأَقْرَبُونَ وَلِلنَِسَاءِ نَصِيْبٌ مِمَّا تَرَكَ الْوَلِدَانِ وَالأقْرَبُونَ مِمّا قَلَّ مِنْهُ أَوْ كَثُرَ نَصِيْبًا مَفْرُوْضًا (النّساء :٧

“Bagi orang laki-laki ada hak bagian dari harta peninggalan ibu bapak dan kerabatnya. Dan bagi orang wanita ada hak bagian pula dari harta peninggalan ibu-bapak dan kerabatnya, baik sedikit atau banyak menurut bagian yang telah ditetapkan”. (Q.S a-Nisa, [4]:7)

Sebab-sebab pewaris yang berdasarkan janji prasetia juga dibatalkan oleh firman Allah SWT

…وَأُوْلُواالأرْحَامْ بَعْضُهُمْ أَوْلَى بِبَعْضٍ فِى كِتَابِ الله إنّ اللهَ بِكُلِّ شَيْءٍ عَليْمٌ (الأنفال : ٧٥)

“… orang-orang yang mempunyai hubungan kerabat itu sebagiannya lebih berhak terhadap sesamanya dari pada yang bukan kerabat di dalam kitab Allah. Sesungguhnya Allah maha Mengetahui segala sesuatu. (Q.S al-Anfal,[8]:75)”.

Sedangkan pewarisan yang berdasarkan adanya pengangkatan anak (adopsi) dibatalkan oleh firman Allah:

…وَمَا جَعَلَ أَدْعِيَاءَكُمْ أَبْنَاءَكُمْ ذَلِكُمْ قَوْلُكُمْ بِأَفْوَاهِكُمْ وَاللهُ يَقُوْلُ الْحَقَّ وَهُوَ يَهْدِى السَّبِيْلَ. أُدْعُهُمْ لِأَبَاءِهِمْ هُوَ أَقْسَطُ عِنْدَ اللهِ فَإِنْ لَمْ تَعْلَمُوْا أبَاءَهُمْ فَإِخْوَنُكُمْ فِي الدِّيْنِ وَمَوَلِيْكُمْ …

“… dan dia tidak menjadikan anak-anak angkatmu sebagai anak kandungmu (sendiri). Yang demikian itu hanyalah perkataan dimulutmu saja. Dan Allah mengatakan yang sebenarnya dan dia menunjukkan jalan yang benar. Panggillah mereka (anak-anak angkat itu) dengan (memakai) nama bapak-bapak mereka; itulah yang lebih adil pada sisi Allah, dan jika kamu tidak mengetahui nama bapak-bapak mereka, maka panggillah mereka sebagai saudara-saudaramu seagama dan maula-maulamu …” (Q.S al-Ahzab [33]:4-5)

Dari uraian diatas, dapatlah dipahami bahwa dalam pewarisan Islam yang berhak menerima harta warisan tidak terbatas kepada kaum laki-laki yang sudah dewasa, melainkan juga kepada anak-anak dan perempuan. Dan dalam pewarisan Islam tidak dikenal adanya janji prasetia dan pengangkatan anak (adopsi)[3].

B. Pengertian

Lafadz faraidh (الفَرَئِض), sebagai jamak dari lafadz faridhah (فريضة), oleh ulama Faradhiyunmafrudhah (مفروضة), yakni bagian yang telah dipastikan atau ditentukan kadarnya. Adapun lafadz al-Mawarits (المواريث) merupakan jamak dari lafadz mirats (ميراث). Maksudnya adalah diartikan semakna dengan lafadz

التِّرْكَةُ الَّتِي خَلَفَهَا الْمَيِّتُ وَوَزَثَهَا غَيْرُهُ

“Harta peninggalan yang ditinggalkan oleh si mati dan diwarisi oleh yang lainnya (ahli waris)”.

Sedangakan pendapat-pendapat ulama mengenai definisi ilmu faraidh atau Fiqih Mawaris:

  • Muhammad al-Syarbiny mendefinisikan ilmu Faraidh sebagai berikut:

الفِقْهُ المُتَعَلِّقُ بِالإِرْثِ وَمَعْرِفَةِ الْحِسَابِ المُوَصِّلُ اِلَى مَعْرِفَةِ ذَالِكَ وَمَعْرِفَةِ قَدْرِ الْوَجِبِ مِنَ التَّرْكَةِ لِكُلِّ ذِىْ حَقٍّ

“Ilmu fiqih yang berkaitan dengan pewarisan, pengetahuan tentang cara perhitungan yang dapat menyelesaikan pewarisan tersebut dan pengetahuan tentang bagian-bagian yang wajib dari harta peninggalan bagi setiap pemilik hak waris (ahli waris)”.

  • Hasbi Ash-Shiddieqy mendefinisikan sebagai berikut:

عِلْمٌ يُعْرَفُ بِهِ مَنْ يَرِثُ وَمَنْ لاَ يَرِثُ وَمِقْدَارُ كُلِّ وَارِثٍ وَكَيْفِيَةُ التَّوْزِيْعِ

“Ilmu yang mempelajari tentang siapa yang mendapatkan warisan dan siapa yang tidak mendapatkannya, kadar-kadar yang diterima oelh tiap-tiap ahli waris dan cara pembagiannya”.

Muhammad Muhyidin Abdul Hamid mendefinisikan sebagai berikut:

العِلْمُ الْمُوَصِّلُ إِلَى مَعْرِفَةِ قَدْرٍ مَا يَجِبُ بِكُلِّ ذِىْ حَقٍّ مِنَ التِّرْكَةِ

“Ilmu yang membahas tentang kadar (bagian) dari harta peninggalan bagi setiap orang yang berhak menerimanya (ahli waris)”.

  • Rifa’I Arief mendefinisikan sebagai berikut:

قَوَاعِدُ وأُصُوْلٌ تُعْرَفُ بِهَا الْوَرِثَهُ وَالنَّصِيْبُ الْمُقَدَّرُ لَهُمْ وَطَرِيْقَهُ تَقْسِبْمِ التَّرْكَةِ لِمُسْتَحِقِّهَا

“Kaidah-kaidah dan pokok yang membahas tentang para ahli waris, bagian-bagian yang telah ditentukan bagi mereka (ahli waris) dan cara membagikan harta peninggalan kepada orang (ahli waris) yang berhak menerimanya”.

Dari beberapa definisi tersebut, dapat disimpulkan bahwa ilmu faraidh atau fiqih Mawaris adalah ilmu yang membicarakan hal ihwal pemindahan harta peninggalan dari seseorang yang meninggal dunia kepada yang masih hidup, baik mengenai harta yang ditinggalkannya, orang-orang yang berhak menerima harta peninggalan tersebut, bagian masing-masing ahli waris, maupun cara penyelesaian pembagian harta peninggalan tersebut.

C. Hukum Mempelajari dan Mengajarkan Ilmu Faraidh

Dalam ayat-ayat Mawaris Allah menjelaskan bagian setiap ahli waris yang berhak mendapatkan warisan, menunjukkan bagian warisan dan syarat-syaratnya menjelaskan keadaan-keadaan dimana manusia mendapat warisan dan dimana ia tidak memperolehnya, kapan ia mendapat warisan dengan penetapan atau menjadi ashobah (menunggu sisa atau mendapat seluruhnya) atau dengan kedua-duanya sekaligus dan kapan ia terhalang untuk mendapatkan warisan sebagian dan seluruhnya.

Begitu besar derajat Ilmu Faraidh bagi umat Islam sehingga oleh sebagian besar ulama dikatakan sebagai separoh Ilmu. Hal ini didasarkan kepada hadis Rasulullah saw yang diriwayatkan oleh Ahmad, Nasa’i dan Daru Quthni:

تَعَلَّمُوا القُرْانَ وَعَلَّمُوْهُ النَّاسَ, وَتَعَلَّمُوْا الفَرَائِضَ وَعَلَّمُوْهَا النَّاسَ, فَإنِّى امْرُؤٌ مَقْبُوْضٌ وَالعِلْمُ مَرْفُوْعٌ وَيُوشِكُ أَنْ يَخْتَلِفَ اثْنَانِ فِى الفَرِيْضَةِ فَلاَ يَجِدَانِ أَحَدًا يُخْبِرُهَا

“Pelajarilah Al-Qur’an dan ajarkanlah kepada orang-orang, pelajarilah ilmu faraidh dan ajarkanlah ilmu itu kepada orang-orang, karena aku adalah manusia yang akan direnggut (wafat), sesungguhnya ilmu itu akan dicabut dan akan timbul fitnah hingga kelak ada dua orang berselisihan mengenai pembagian warisan, namun tidak ada orang yang memutuskan perkara mereka”.

Hadis tersebut menunjukkan bahwa Rasulullah saw, memerintahkan kepada umat Islam untuk mempelajari dan mengajarkan ilmu faraidh, agar tidak terjadi perselisihan-perselisihan dalam pembagian harta peninggalan, disebabkan ketiadaan ulama faraidh. Perintah tersebut mengandung perintah wajib. Kewajiban mempelajari dan mengajarkan ilmu itu gugur apabila ada sebagian orang yang telah melaksanakannya. Jika tidak ada seorang pun yang melaksanakannya, maka seluruh umat Islam menanggung dosa, disebabkan melalaikan suatu kewajiban.

Dalam buku lain, kami menemukan bahwa dengan adanya kewajiban untuk menjalankan syariat Islam dalam perkara waris maka wajib (wajib kifayah) pula hukum belajar dan mengajarkan ilmu faraidh

Rangkuman Ilmu Faraidh:

  1. Pengertian  Ilmu Faraid
  2. Sebab sebab menerima warisan
  3. Orang yang tidak boleh menerima warisan
  4. Yang harus dikeluarkan sebelum warisan dibagikan
  5. Ahli waris laki-laki dan perempuan
  6. Ashobah dan ashabul furudh
  7. Aul  dan radd
  8. Akdariyah
  9. Ghorowaian

 

  1. Ahli Waris.

Ahli ada dua jenis lelaki dan perempuan .

  1. Ahli Waris lelaki terdiri dari.
    1. Anak laki-laki
    2. Cucu laki-laki sampai keatas dari garis anak laki-laki.
    3. Ayah
    4. Kakek sampai keatas garis ayah
    5. Saudara laki-laki kandung
    6. Saudara laki-laki seayah
    7. Saudara laki-laki seibu
    8. Anak laki-laki saudara kandung sampai kebawah.
    9. Anak laki-laki saudara seayah sampai kebawah.
    10. Paman kandung
    11. Paman seayah
    12. Anak paman kandung sampai kebawah.
    13. Anak paman seayah  sampai kebawah.
    14. Suami
    15. Laki-laki yang memerdekakan

 

  1. Ahli Waris wanita terdiri dari
    1. Anak perempuan
    2. Cucu perempuan sampai kebawah dari anak laki-laki.
    3. Ibu
    4. Nenek sampai keatas dari garis ibu
    5. Nenek sampai keatas dari garis ayah
    6. Saudara perempuan kandung
    7. Saudara perempuan seayah
    8. Yang Saudara perempuan seibu.
    9. Isteri
    10. Wanita yang memerdekakan

 

  1. Ditinjau dari sudut pembagian, Ahli waris terbagi dua yaitu : Ashhabul furudh dan Ashobah.
  2. Ashabul furudh  yaitu orang yang mendapat bagian tertentu. Terdiri dari
    1. Ditinjau dari dapat bagian ½ harta.

1)       Anak perempuan kalau sendiri

2)       Cucu perempuan kalau sendiri

3)       Saudara perempuan kandung kalau sendiri

4)       Saudara perempuan seayah kalau sendiri

5)       Suami

  1. Yang mendapat bagian ¼ harta

1)       Suami dengan anak atau cucu

2)      Isteri  atau beberapa kalau tidak ada anak atau cucu

c.    Yang mendapat 1/8

Isteri atau beberapa isteri dengan anak atau cucu.

 

  1. Yang mendapat 2/3

1)      Dua atau lebih anak perempuan

2)      Dua atau lebih cucu perempuan dari garis anak laki-laki

3)      Dua atau labih saudara perempuan kandung

4)      Dua atau lebih saudara perempuan seayah

  1. Yang  mendapat 1/3

1)      Ibu jika tidak ada anak, cucu dari grs anak laki-laki, dua saudara kandung/seayah atau seibu.

2)      Dua atau lebih anak ibu baik laki-laki atau perempuan

  1. Yang mendapat 1/6

1)      Ibu  bersama anak lk, cucu lk atau dua atau lebih saudara perempuan kandung atau perempuan seibu.

2)      Nenek garis ibu jika tidak ada ibu dan terus keatas

3)      Nenek  garis ayah jika tidak ada  ibu dan ayah  terus keatas

4)      Satu atau lebih cucu perempuan dari anak laki-laki bersama satu anak perempuan kandung

5)      Satu atau lebih saudara perempuan seayah bersama satu saudara perempuan kandung.

6)      Ayah bersama anak lk atau cucu lk

7)      Kakek jika tidak ada ayah

8)      Saudara seibu satu orang, baik laki-laki atau perempuan.

 

  1. Ashobah  yaitu orang yang tidak mendapat bagian tertentu
    1. Tertib ashobah binafsihi

1)      Anak laki-laki

2)      Cucu laki-laki dari anak laki-laki  terus kebawah

3)      Ayah

4)      Kakek dari garis ayah keatas

5)      Saudara laki-laki kandung

6)      Saudara laki-laki seayah

7)      Anak laki-laki saudara laki-laki kandung sampai kebawah

8)      Anak laki-laki saudara laki-laki seayah sampai kebawah

9)       Paman kandung

10)  Paman  seayah

11)  Anak laki-laki paman kandung sampai kebawah

12)  Anak laki-laki paman seayah sampai kebawah

13)  Laki-laki yang memerdekakan yang meninggal

  1. Ashobah dengan dengan saudaranya

1)      Anak perempuan bersama anak laki-laki atau cucu laki.

2)      Cucu perempuan bersama cucu laki-laki

3)      Saudara perempkuan kandung bersama saudara laki-laki kandung atau saudara laki-laki seayah.

4)      Saudara perempuan seayah bersama saudara laki-laki seayah.

  1. Menghabiskan bagian tertentu

1)      Anak perempuan kandung satu orang bersama cucu perempuan satu atau lebih (2/3).

2)      Saudara perempuan kandung bersama saudara                       perempuan seayah (2/3)

 

  1. Orang tidak boleh menerima warisan.
  2. Orang yang yang membunuh mayat
  3. karena berbeda agama
  4. karena perbudakan

 

  1. Harta yang harus dikeluarkan sebelum dibagikan kepada ahli waris
    1. Biaya jenazah
    2. Utang yang belum dibayar
    3. Zakar yang belum dikeluarkan
    4. Wasiat

Tata Cara dan Contoh Pembagian Waris Secara Islam

بِسْــــــــــــــــمِ اﷲِالرَّحْمَنِ اارَّحِيم

Keutamaan Hukum Waris Secara Islam

“Belajarlah Al Qur’an dan ajarkanlah kepada manusia, dan belajarlah faraidh dan ajarkanlah kepada manusia, karena sesungguhnya aku seorang yang akan mati, dan ilmu akan terangkat, dan bisa jadi akan ada dua orang berselisih, tetapi tak akan mereka bertemu seorang yang akan mengabarkannya (HR. Ahmad, Turmudzi dan An Nasa’I”).Hukum Kewarisan menurut hukum Islam sebagai salah satu bagian dari hukum kekeluargaan (Al-ahwalus Syahsiyah) sangat penting dipelajari agar supaya dalam pelaksanaan pembagian harta warisan tidak terjadi kesalahan dan dapat dilaksanakan dengan seadil-adilnya, sebab dengan mempelajari hukum kewarisan Islam maka bagi ummat Islam, akan dapat menunaikan hak-hak yang berkenaan dengan harta warisan setelah ditinggalkan oleh muwarris(pewaris) dan disampaikan kepada ahli waris yang berhak untuk menerimanya. Dengan demikian seseorang dapatterhindar dari dosa yakni tidak memakan harta orang yang bukan haknya, karena tidak ditunaikannya hukum Islam mengenai kewarisan. Hal ini lebih jauh ditegaskan oleh rasulullah Saw. Yang artinya:

Materi Pendukung Tata Cara Pembagian Waris

Untuk dapat membagi waris secara benar, perlu membekali diri dengan pengetahuan tentang hal-hal yang berkaitan dengan persiapan dan tata aturan sebelum membagikan waris. Ada baiknya anda membaca postingan saya sebelumnya, yakni :

Pengertian Harta Warisan

Pengertian ahli Waris Menurut Hukum Islam

Klasifikasi Ahli Waris Dalam Keluarga

‘AulRadd. dll.

Setelah dipahami penjelasannya, mulailah belajar menganalisa contoh-contoh kasus pembagian waris dengan berbagai variannya.

Metode dan tahapan membagi warisnya, adalah:

1. Inventarisir siapa saja ahli waris yang beroleh bagian.
2. Tentukan bagian masing-masing ahli waris.
3. Jika jumlah bagian total belum bulat, samakan penyebutnya.
4. Jika penyebut sudah sama dan jumlah bagian sudah bulat, jadikanlah masing-masing ke bentuk persen agar lebih mudah dipahami.

Contoh – Contoh Cara Pembagian Waris Islami

1.  Seorang wafat dengan meninggalkan:

–          Janda            – Saudara Pr kdg

–          Ibu                 – Saudara Lk s.a.

Berapa bagian masing-masing ahli waris apabila tirkah sebesar Rp.24.240.000,- ?

Jawab: janda ¼, ibu ⅙, saudara Pr kdg ½, dan saudara Lk s.a. Mahjub oleh Saudara Pr kdg.

Sehingga pembagiannya sbb: (asal masalah 12)

Janda                    ¼ x 12    =  3

Ibu                         ⅙ x 12    =  2

Saudara Pr kdg  ½ x 12    =  6

Jumlah                 :   11 (Radd). Jadi penyelesaiannya sbb:
Janda                    3/12 = ¼ x 24.240.000     = 6.060.000

Ibu                         2/12 = ⅙ x 24.240.000     = 4.040.000

Saudara Pr kdg  6/12 = ½ x 24.240.000     = 12.120.000

Jumlah                 :  22.220.000 (sisa 2.020.000) kemudian:
Janda                    3/11 x 2.020.000                = 550.909   1/11

Ibu                         2/11 x 2.020.000                = 367.272   8/11

Saudara Pr kdg  6/11 x 2.020.000                = 1.101.818   2/11
Sehingga, bagian masing-masing ahli waris adalah:

Janda                    = 6.060.000 + 550.909   1/11         = 6.610.909   1/11

Ibu                         = 4.040.000 + 367.272   8/11         = 4.407.272   8/11

Saudara Pr kdg  = 12.120.000 + 1.101.818   2/11   = 13.221.818   2/11
2.       Seorang wafat dengan meninggalkan:

–          Saudara Lk

–          Ibu

–          Anak Pr

Berapa bagian masing-masing ahli waris apabila tirkah sebesar Rp.240.000.000,- ?

Jawab: Ibu ⅙, Anak Pr ½, dan Saudara Lk ABN

Pembagiannya sbb: (asal masalah 6)

Ibu                         ⅙ x 6      = 1

Anak Pr                 ½ x 6      = 3

Saudara Lk           ABN       = 2

Jumlah                 :   6 (pas). Sehingga penyelesaiannya adalah:
Ibu                                      ⅙ x 240.000.000 = 40.000.000

Anak Pr                3/6 =      ½ x 240.000.000 = 120.000.000

Saudara Lk          2/6 =      ⅓ x 240.000.000 = 80.000.000
3.       Seorang wafat dengan ahli waris masing-masing:

–          Janda            – Ibu

–          Ayah              – 2 Anak Pr

Berapakah bagian yang diperoleh masing-masing ahli waris apabila tikrah Rp.54.000.000,- ?

Jawab: janda ⅛, ayah ⅙, ibu ⅙, dan anak Pr ⅔

Jadi penyelesaiannya sbb: (asal masalah 24)

Janda                    ⅛ x 24    = 3

Ayah                      ⅙ x 24    = 4

Ibu                         ⅙ x 24    = 4

2 Anak Pr             ⅔ x 24   = 16

Jumlah                 :  27 (‘Aul) sehingga cara pembagiannya adalah:
Janda                    3/27 x 54.000.000             = 6.000.000

Ayah                      4/27 x 54.000.000             = 8.000.000

Ibu                         4/27 x 54.000.000             = 8.000.000

2 Anak Pr             16/27 x 54.000.000           = 32.000.000
4.   Seorang wafat dengan ahli waris masing-masing:

–          Ibu                 – Janda

–          Ayah              – 3 Saudara Lk s.a.

Berapakah bagian yang diperoleh masing-masing ahli waris apabila tirkah Rp.48.000.000,- ?

Jawab: ini adalah contoh masalah GHARRAWAIN. Sehingga bagian janda ¼, Ibu ⅓ dari sisa, dan ayah mendapatkan sisanya (ABN)

Pembagiannya sbb:

Janda    ¼ x 48.000.000   = 12.000.000 (sisa 36.000.000)

Ibu         ⅓ x 36.000.000   = 12.000.000

Ayah      ABN                       = 24.000.000

5.   Seorang meninggal dengan meninggalkan ahli waris:

–          Cucu Lk pc. Lk            – Ibu

–          2 Saudara Lk               – Kakek

Berapakah bagian yang diperoleh masing-masing ahli waris bila tirkah 12 ha sawah?

Jawab: kakek ⅙, Ibu ⅙, Cucu Lk pc. Lk ABN, saudara Lk dimahjub oleh cucu Lk pc. Lk

Pembagiannya sbb:

Ibu                         ⅙ x 12 ha              = 2 ha sawah

Kakek                    ⅙ x 12 ha              = 2 ha sawah

Cucu Lk pc. Lk    ABN                       = 8 ha sawah
6.   Seorang meninggal dengan meninggalkan ahli waris:

–          Duda             – 4 Anak Lk

–          Nenek          – 4 Anak Pr

Berapakah bagian yang diperoleh masing-masing ahli waris bila tirkah Rp. 54.360.000,- ?

Jawab:  duda ¼, nenek ⅙,  anak Lk dan anak Pr mendapat sisa (ABG)

Pembagiannya sbb: (asal masalah 12)

Duda                     ¼ x 12    = 3

Nenek                  ⅙ x 12    = 2

Anak Lk dan Pr  ABN       = 7

Jumlah                 :  12 (pas). Penyelesaiannya sbb:
Duda                     3/12 =   ¼ x 54.360.000                   = 13.590.000

Nenek                  2/12 =   ⅙ x 54.360.000                   = 9.060.000

Anak Lk dan Pr  ABN =   7/12 x 54.360.000             =  31.710.000

ABG       = 4 anak Lk dan 4 anak Pr (2+2+2+2+1+1+1+1) asal masalahnya 12. Jadi:

1 Anak Lk             2/12 x 31.710.000             = 5.285.000

1 Anak Pr             1/12 x 31.710.000             = 2.642.500
7.   Seorang meninggal dengan meninggalkan ahli waris cucu Lk pc. Lk dan Janda yang sedang mengandung. Berapakah bagian yang diperoleh masing-masing ahli waris apabila tirkahnya Rp.24.480.000,- ?

Jawab:  Jika anak yang di dalam kandungan adalah anak Lk, maka:

janda ⅛, anak Lk ABN, dan cucu Lk pc. Lk mahjub oleh anak Lk. Sehingga:
Janda                    ⅛ x 24.480.000   = 3.060.000

Anak Lk            ABN                       = 21.420.000

Jika anak yang di dalam kandungan adalah anak Pr, maka: janda ⅛, anak Pr ½, dan cucu Lk pc. Lk mendapatkan sisanya (ABN). Sehingga: (asal masalah 8)
Janda                    ⅛ x 8      = 1

Anak Pr                ½ x 8      = 4

Cucu Lk pc. Lk           ABN       = 3

Jumlah                 :  8 (Pas). Jadi pembagiannya sbb:
Janda                    ⅛ x 24.480.000                   = 3.060.000

Anak Pr                4/8 =     ½ x 24.480.000      = 12.240.000

Cucu Lk pc Lk      3/8 x 24.480.000                = 9.180.000
8.   Seorang meninggal dengan meninggalkan ahli waris Janda dan Ibu yang sedang mengandung. Berapakah bagian yang diperoleh masing-masing ahli waris?
Jawab:  Jika anak ibu tersebut Laki, maka: janda ¼, Ibu ⅙, saudara Lk ABN

Jika anak ibu tersebut Perempuan, maka: janda ¼, Ibu ⅙, Saudara Pr ½.
9.   Seorang meninggal dengan meninggalkan ahli waris:

–          Ibu                 – Duda

–          Kakek            – Cucu Lk pc. Lk

Berapakah bagian yang diperoleh masing-masing ahli waris?

Jawab:  Duda ¼, Ibu ⅙, kakek ⅙, dan Cucu Lk pc. Lk mendapatkan seluruh sisanya (ABN)

10.   Seorang meninggal dengan meninggalkan ahli waris:

–          Cucu Lk pc. Pr

–          Cucu Lk pc. Lk

–          Cucu Pr pc. Lk

–          3 kemenakan Lk dari saudara Lk kdg

Berapakah bagian yang diperoleh masing-masing ahli waris?

Jawab:  Sesuai dengan QS. An-Nisa’:11, Cucu Lk pc. Lk dan Cucu Pr pc. Lk masing-masing membaginya dengan bandingan 2:1. Cucu Lk pc. Pr bukanlah ahli waris sedangkan 3 kemenakan tersebut mahjub oleh cucu Lk pc. Lk

11.   Seorang meninggal dengan meninggalkan ahli waris:

–          Duda                             – Cucu Pr pc. Lk

–          Saudara Lk s.a.          – Kakek

–          Saudara s.i.

Berapakah bagian yang diperoleh masing-masing ahli waris?

Jawab:  Duda ¼, Kakek ⅙, Cucu Pr pc. Lk ½, Saudara Lk s.a. ABN sedangkan Saudara s.i. Mahjub oleh Kakek

 

 

Iklan

2 pemikiran pada “BAB FARAIDL

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s